Ngeyel Berbuah Jengkel, Kisah Pilu Pendaki Gunung Prau

Tiga bulan lamanya kami susun rencana demi rencana untuk mendaki Gunung Prau, Dieng Wonosobo. Segala kebutuhan dan perlengkapan telah kami siapkan dengan matang. Malam itu, 25 Maret 2017 menjadi saksi bisu perjalanan kami.

Ngeyel..

Sebenarnya pada saat itu lokasi pendakian Gunung Prau sedang ditutup untuk umum, karena sedang diadakan pemulihan kembali ekosistem yang ada oleh pihak Perhutani. Tapi namanya kami sudah terlanjur merencanakannya jauh – jauh hari sekaligus telah memesan tiket kereta api, sewa mobil dan peralatan kemping, maka kami putuskan untuk melanggar peraturan tersebut alias ngeyel hehe…(Jangan ditiru yah… karena efeknya buruk 😀 )

Memasuki kawasan dataran tinggi Dieng, kami sudah dibikin galau oleh alam. Langit mendadak mendung, dari kejauhan tampak kilat menyayat gelapnya malam. Rasa cemas bergejolak dihati kami, haruskah kami batal nanjak malam ini?. Alhamdulillah hujan tak menampakan raganya, hanya mendung yang mengiringi langkah kami.

pendakian-gunung-prau-02

Proses Pendakian

Waktu telah menunjukan pukul 21.30 WIB, setelah selesai berkemas merapikan berbagai peralatan dan perlengkapan kemping, bergegaslah kami menuju puncak gunung prau. Pendakian kali ini kami menggunakan jalur via Dieng Wetan. Jalur ini tidak seramai via Patak Banteng namun memiliki bidang jalan yang sedikit lebih landai dengan jarak tempuh normal sekitar 3 – 4 jam untuk pemula.

Guyuran hujan yang terjadi sejak siang hingga sore hari, menjadikan jalur yang harus kami lalui becek dan licin. Disaat seperti inilah kesabaran dan kerjasama team kami diuji.

Beberapa anggota team kami sesungguhnya masih pemula, dan sejujurnya mereka lebih layak menjadi Amol (Anak Mall) dari pada menjadi Agung (Anak Gunung). Hal tersebut bisa kita lihat dari cara dan sikap mereka dalam menghadapi kenyataan. Mulai dari cara mengambil langkah, hingga cara menyikapi keluhan teman saat membutuhkan waktu untuk beristirahat, itu sangat jauh dari jiwa seorang petualang. Sebagian dari mereka tampak egois dan kurang bisa menjaga solidaritas antar anggota team.

Camping Ground Gunung Prau Dieng

Welcome To Puncak Gunung Prau

Pendakian kami tempuh dengan jarak waktu yang luar biasa fantastik dan bombastik hehehe…. kenapa? coba bayangkan! jarak tempuh yang normalnya hanya sekitar Tiga jam, kami berhasil melaluinya dengan rekor terbaik yaitu Enam Jam. Yee….. kami hebat hehe….

Sempai di puncak tepat pukul 04.00 WIB. Begitu kami memijakan kaki di puncak tertinggi Gunung Prau, kami disambut dengan pekatnya kabut gunung disertai deru angin kencang yang terus berhembus menyambut kedatangan kami. Lampu senter yang kami bawapun kurang menolong perjalanan kami, karena hanya sanggup menembus jarak pandang sekitar dua meter.

Dingin, Sunyi, Sepi dan seram hanya itu yang dapat kami rasakan saat itu. Rasa takut menyelimuti kami yang berada di balutan kabut dan hawa dingin yang begitu menusuk disertai hembusan angin kencang. Hanya terdapat sekitar Delapan tenda yang berdiri dipuncak Gunung Prau saat itu.  Kami pun bergegas mencari lokasi yang aman untuk mendirikan tenda dan langsung merangkainya. Tak lama kemudian kamipun bisa langsung beristirahat sekaligus melindungi diri dari gerimis yang mulai turun malam itu.

pendakian-gunung-prau

Kecewa…

Malampun telah berlalu, sang fajar telah menunjukkan pesonanya, ini lah saat saat teridah yang kami nanti dan impikan selama ini. Tapi…. ZOONKK!!!….bukanlah keindahan puncak gunung dengan Sunrise berwarna jingga penuh pesona yang kami dapati, melainkan pekatnya kabut disertai rintik hujan dan deru angin yang penyambut suasana pagi kami. Sedih…Marah…Kecewa..dan gundah hanya itu yang dapat kami rasakan.

Setelah hujan sedikit reda, kami putuskan untuk turun dengan membawa kekecewaan dan melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya. Tenda satu persatu kami bongkar dan melipatnya dengan rapi untuk segera kami bawa turun ke basecamp dadakan alias warung. Karena basecamp Dieng Wetan sedang tutup selama program pemulihan ekosistem yang telah ditetapkan oleh pihak Perhutani, maka kami memanfaatkan warung warga sebagai Basecamp kami.

Tibalah kami di Warung Warga yang kami jadikan Basecamp dadakan tepat pukul 11.00 WIB. Selama Tiga Jam kami tempuh perjalanan turun dari puncak Prau, sepanjang perjalanan turun kami hanya tersisa tiga orang, karena anggota team yang lain sudah jauh meninggalkan kami sejak awal perjalanan turun. Disitulah kadang ku merasa sedih, betapa solidnya team kami saat itu sampai-sampai tega meninggalkan kami dengan bawaan berat berupa tenda yang juga mereka pakai dan peralatan lainnya.

Mendaki gunung memanglah asik dan menyenangkan jika: cuacanya mendukung, teamnya solid, dan yang paling penting jangan pernah melanggar aturan yang telah dibuat. Karena ada maksud tertentu dibalik peraturan tersebut, yang pastinya baik untuk kita dan juga pihak pengelola.

Janganlah pernah meninggalkan sampah di puncak gunung, bawalah sampah turun dan buanglah ditempat yang telah disediakan oleh pihak pengelola maupun di basecamp. Bagi yang hobi corat-coret bawalah media sendiri, jangan pernah mencorat-coret bidang apapun di jalur pendakian maupun dipuncak gunung, karena hal tersebut akan merusak ekosistem yang ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s